PSS Sleman Ragukan “New Normal” dalam Sepak Bola Indonesia


PSS Sleman Ragukan “New Normal” dalam Sepak Bola Indonesia

PSS Sleman Ragukan “New Normal” dalam Sepak Bola Indonesia

PSS Sleman masih meragukan penerapan new normal dalam sepak bola Indonesia. Sebab, kelaziman baru (new normal) ini harus disertai landainya grafik kasus Covid-19. Sedangkan di Indonesia, grafiknya masih sangat fluktuatif.

Penerapan kelaziman baru dalam sepak bola masih menimbulkan polemik. Masih ada banyak pihak yang menanyakan dasar kebijakan tersebut.

Hal ini juga terlihat dari hasil rapat virtual PSSI. Mayoritas klub sepakat untuk menghentikan kompetisi secara total. Daripada mengambil resiko dengan memaksa menerapkan kelaziman baru tersebut.

Setidaknya, ada empat tim yang menghendaki kompetisi dihentikan tanpa syarat. Yakni, Madura United, Persebaya Surabaya, PSIS Semarang, dan Bhayangkara FC. Alasan kesehatan dan keselamatan menjadi faktor kunci pendapat tersebut.

Namun, ada beberapa klub yang terbuka terhadap dua opsi. Yakni liga dihentikan atau dilanjutkan dengan memerhatikan prosedur kesehatan. Salah satunya adalah PSS Sleman.

Ajukan Syarat yang Ketat

Keputusan PSS Sleman tersebut disertai dengan syarat yang ketat. Lanjutan kompetisi harus disertai dengan kajian mendalam yang mendalam. Ada beberapa landasan yang harus dijadikan dasar melanjutkan kompetisi.

PSS Sleman mewajibkan adanya grafik kasus Covid-19 yang melandai. Artinya, grafik kasus baru mulai menurun dan stabil. Sebab, hal ini merupakan landasan dasar pemberlakuan kelaziman baru.

PSS Sleman Ragukan “New Normal” dalam Sepak Bola Indonesia

“Konsep new normal mewajibkan beberapa syarat tertentu. Yang paling utama adalah melandainya grafik kasus baru Covid-19,” ujar Direktur Operasional PT Putra Sleman Sembada (PSS), Hempri Suyatna.

Hempri juga meragukan penerapan kelaziman baru di sepak bola Indonesia. Sebab dalam pantauannya, grafik Covid-19 di Indonesia masih fluktuatif. Artinya, grafiknya masih naik turun dan belum menunjukkan penurunan.

“Apabila melihat data pertambahan kasus nasional, memang masih fluktuatif,” ujar Hempri.

Harus Berhati-hati

Karena alasan tersebut, Hempri meminta agar penerapan kelaziman baru harus berhati-hati. Sebab, penerapannya memang membutuhkan prosedur yang ketat. Apalagi jika kajian ini benar-benar akan direalisasikan di sepak bola.

“Oleh karena itu, penerapan new normal sepak bola harus hati-hati. Namun, saya kira bisa dipersiapkan secara detail. Sebagai contoh mengenai aturan physical distancing. Kajiannya bisa dimulai dari tempat tinggal, hingga ruang ganti. Kemudian juga aturan-aturan ketika pertandingan digelar,” ujar Hempri menjelaskan.

Menurut Hempri, seluruh prosedur harus dipersiapkan dengan matang. Kesehatan dan keselamatan semua pihak harus menjadi prioritas utama. Jika ini bisa dilakukan, ia mengira pertandingan sepak bola bisa digelar.

“Kalau panduan new normal sudah ada, saya kira pertandingan bisa digelar. Entah nanti berbentuk kompetisi atau turnamen, misalnya,” pungkas Hempri.

Previous PSIS Usulkan Home Tournament kepada PT LIB, Apa itu?

Next Pengamat Sepak Bola, Eko Maung Beri Saran untuk PSSI

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *