Pengamat Sepak Bola, Eko Maung Beri Saran untuk PSSI


Pengamat Sepak Bola, Eko Maung Beri Saran untuk PSSI

Pengamat Sepak Bola, Eko Maung Beri Saran untuk PSSI

Pengamat sepak bola, Eko Maung ikut berpendapat tentang nasib kompetisi. Menurutnya, sangat tepat apabila liga dihentikan total oleh PSSI. Ia menilai kondisi Indonesia berbeda dengan Korea Selatan dan Jerman. Ia menyarankan agar PSSI meniru FIFA yang menunda Euro 2020.

Eko Maung menilai sangat sulit untuk melanjutkan Liga Indonesia. Hal ini mengacu pada kultur sepak bola Indonesia sendiri. Ia beranggapan kultur sepak bola nasional berbeda dengan Korea Selatan.

Poin kritik yang disorot Eko Maung adalah soal kedisiplinan. Entah itu dari masyarakat atau dari pemerintah Indonesia sendiri. Hal ini menjadi faktor utama yang membedakan Indonesia.

“Maaf, kami bukan bermaksud merendahkan kedisiplinan masyarakat kita. Tetapi kondisi di lapangan pasti akan berkata lain,” ujar pria bernama asli Eko Nur Kristiyanto tersebut.

“Jangan mengacu pada komptisi di Korsel dan Jerman. Tingkat kesadaran masyarakat di sana sudah sangat tinggi. SOP di sana juga sudah disiapkan dengan baik,” imbuhnya.

Menyinggung Fasilitas Kesehatan

Eko Maung juga menyinggung fasilitas medis di Indonesia. Menurtnya, kualitasnya sangat jauh berbeda dengan Korsel dan Jerman. Ia menilai fasilitas kesehatan Indonesia masih sangat minim.

Eko Maung juga berkaca dari kebiasaan di persepakbolaan tanah air. Dalam situasi normal, ia menganggap banyak prosedur yang dilanggar. Apalagi jika harus berhadapan dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Sekarang, menggelar pertandingan dibayang-bayangi penularan virus Corona. Apakah semua panitia bisa menyiapkan seluruh fasilitas?” ucap Eko menanyakan.

Pengamat Sepak Bola, Eko Maung Beri Saran untuk PSSI

Eko juga meragukan sterilitas seluruh peralatan pendukung pertandingan. Hal-hal dasar ini sangat rentan menjadi media penyebaran Covid-19.

“Saya pesimistis pertandingan bisa steril. Karena sangat rentan penyebarannya. Misalnya saja, kontrol pada bekas minum dan handuk pemain,” kata Eko.

Keputusan menggelar pertandingan tanpa penonton juga menjadi sorotan. Tidak ada satupun pihak yang bisa menjamin keadaan di luar stadion. Fanatisme masyarakat Indonesia yang dikenal militan tentu akan menjadi tantangan.

Sarankan PSSI Meniru FIFA

Dengan kondisi ini, Eko menyarankan PSSI bisa bersikap bijaksana. Ia mengatakan PSSI bisa belajar dari FIFA. Sebelumnya, FIFA telah memutuskan untuk menunda pagelaran Piala Eropa 2020.

Eko menilai keputusan tersebut layak dijadikan teladan. Sebab, faktor keselamatan nyawa diletakkan di atas kepentingan ekonomi.

“Mereka (FIFA) tak lagi menghitung kerugian finansial. Kalau mau dihitung, semua juga pasti mengalami kerugian. Memang situasi dan kondisinya seperti sekarang ini,” ujar Eko.

Oleh karena itu, Eko menegaskan agar kompetisi dihentikan saja. Selama vakum, PSSI bisa melakukan pembenahan-pembenahan aspek dasar organisasi.

Previous PSS Sleman Ragukan “New Normal” dalam Sepak Bola Indonesia

Next Arsenal Coba Cari Celah untuk Datangkan Rabbi Matondo

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *