Connect with us

Bolamezzo

Resolusi Sepak Bola Indonesia 2018

Resolusi Sepak Bola Indonesia 2018


Selamat tahun baru 2018! Tahun 2017 mungkin penuh dengan momen yang berkesan untuk kita semua, baik dari yang menyenangkan, maupun yang menyayat hati. Sebagian dari kita mungkin harus kehilangan sesuatu yang berharga, namun seperti pepatah, patah satu tumbuh seribu, seiring dengan berjalannya waktu, kita semua akan mendapatkan penggantinya yang mungkin lebih berharga.

Ditilik dari sudut pandang sepak bola, di tahun 2017, Indonesia juga mengalami momen rollercoaster-nya sendiri. Kita patut bersyukur tentunya dengan kemunculan pemain-pemain muda potensial seperti Egy Maulana Vikry, Witan Sulaeman, Rafli Mursalim, dan yang lainnya. Namun, momen menyedihkan dan konyol juga banyak terjadi, seperti berpulangnya kiper legendaris Choirul Huda, dan dagelan tentang Liga 1.

Menyongsong tahun 2018, ada baiknya kita memasang target tertentu, dan beberapa resolusi demi diri kita yang lebih baik. Kami dari Football Tribe Indonesia, telah meniman-nimang, apa saja sebaiknya resolusi yang wajib ada demi kesuksesan sepak bola Indonesia di tahun 2018 nanti.

Berikut ini adalah beberapa daftarnya:

Penanganan medis untuk pesepak bola yang lebih mumpuni

Kepergian Choirul Huda tentu memukul kita semua, pencinta sepak bola di Tanah Air. Kecelakaan yang menimpanya begitu tiba-tiba, begitu cepat terjadi, namun mungkin memang sudah suratan takdir-Nya seperti itu. Kini, tak ada lagi yang dapat dilakukan selain mendoakan Cak Huda agar selalu tenang di sisi-Nya, dan menjadikan peristiwa tragis ini sebagai pelajaran berarti.

Satu yang harus disorot adalah bagaimana penanganan medis terhadap kecelakaan yang menimpa almarhum Huda dilakukan. Berdasarkan penuturan fisioterapis PSS Sleman, dikutip dari detikcom, terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan oleh tim medis ketika menangani kecelakaan Huda.

Yang pertama adalah tidak adanya diagnosis awal yang dilakukan di lapangan, seperti pengecekan denyut nadi dan pernapasan. Yang kedua adalah kecerobohan tim medis ketika membawa almarhum ke ambulans. Menurut Sigit, penanganan pertama harus benar-benar dilakukan di lapangan, dan ambulans pun seharusnya masuk ke lapangan, bukan sang pemain yang digotong keluar dengan tandu.

Apabila terpaksa menggunakan tandu, tandu yang digunakan haruslah beroda agar lebih stabil. Tak hanya itu, lebih parahnya lagi, ketika almarhum ditandu keluar, ia dikerubungi oleh banyak fotografer, sehingga ruang napasnya pun berkurang.

Tentu saja kita semua tidak ingin insiden yang menimpa Choirul Huda terulang kembali. Oleh karena itu, prosedur penanganan medis tahap pertama yang berada di lapangan harus benar-benar ditinjau dan ditingkatkan kembali. Kita dapat berkaca bagaimana cara penanganan medis yang jempolan ketika Fabrice Muamba, gelandang milik Bolton Wanderers yang kolaps akibat serangan jantung dalam laga Piala FA melawan Tottenham Hotspur.

Saat itu, semua tim medis benar-benar masuk ke lapangan dan memberikan pertolongan tanpa memindahkan tubuh Muamba. Tak hanya itu, kode etik juga diperhatikan ketika seluruh saluran yang menayangkan pertandingan tersebut diputus. Hingga kini, Muamba masih sehat walaupun ia harus pensiun lebih dini. Hal ini adalah hal esensial di semua olahraga, tak hanya sepak bola, dan mari kita berharap masalah yang satu ini benar-benar diperhatikan dan diperbaiki oleh PSSI.

Kompetisi antarklub yang lebih terorganisir

Tentunya, kita semua masih ingat bagaimana kompetisi antar klub sepak bola Indonesia berlangsung kemarin, mulai dari Liga 1 dan Liga 2. Banyak hal-hal aneh dan ajaib yang tak masuk di akal. Beberapa peraturan yang lucu seperti play-off khusus, atau wacana tanpa degradasi, aturan U-23 yang tiba-tiba dihapuskan di tengah kompetisi bergulir, dan tentunya kerusuhan antar-pemain maupun suporter yang acapkali terjadi. Semua ini bisa teratasi apabila kompetisi antarklub ini memiliki pengorganisasian yang lebih rapi, yang lebih tegas. Liga 1 dan 2 2017 hanya bisa dijadikan evaluasi belaka.

Jujur saja, dari segi popularitas, Liga 1 tahun lalu mungkin termasuk populer di mata dunia mengingat adanya mantan bintang Eropa yang bermain di sini seperti Peter Odemwingie, Michael Essien, dan Carlton Cole. Namun, apabila segala macam kebobrokan terulang lagi di tahun 2018 akibat tidak adanya fondasi peraturan yang kokoh, sia-sia rasanya mendatangkan marquee player seperti mereka.

Tidak ada lagi suporter yang meregang nyawa di stadion

Tahun 2017, setidaknya ada tiga supporter yang harus kehilangan nyawanya ketika ingin mendukung tim kesayangannya. Mereka adalah Ricko Andrean yang harus meregang nyawa selepas menonton derbi klasik Persib Bandung melawan Persija Jakarta, Catur Yuliantono yang terkena petasan yang dilempar saat timnas Indonesia beruji coba melawan Fiji, lalu suporter Persita Tangerang, Banu Rusman, yang kabarnya dikeroyok oleh tentara di kerusuhan Persita Tangerang melawan PSMS Medan. Menyedihkan rasanya, pergi ke stadion demi mendukung timnas atau klub tercinta dan harus pulang dengan mobil jenazah. Semoga di tahun 2018 nanti, hal seperti ini tak lagi terjadi.

Timnas Indonesia berprestasi

Di tahun 2017, bisa dikatakan timnas Indonesia mengalami kemajuan yang cukup memuaskan. Mulai dengan kedatangan manajer lihai asal Spanyol, Luis Milla, hingga banyaknya talenta muda yang bertebaran. Secara prestasi, timnas Garuda baik yang senior maupun junior pun lumayan memuaskan. Tahun 2018 nanti, makin banyak event sepak bola nasional, mulai dari Piala AFF Wanita di bulan Mei 2018, Piala AFF U-18, Asian Games, Piala Asia U-16, Piala Asia U-19, hingga Piala AFF akhir tahun 2018 nanti. Banyaknya kompetisi ini tentu menyenangkan bagi kita semua, namun tentunya akan lebih memuaskan lagi apabila timnas kita bisa menorehkan prestasi yang terhormat di beberapa ajang tersebut. Atur ekspektasi kalian, Tribes!

PSSI yang waras

Resolusi yang ini adalah yang paling esensial. Empat resolusi yang telah disebutkan sebelumnya tidak akan berjalan dengan baik apabila yang satu ini tak mungkin tercapai. PSSI sebagai payung dari sepak bola Indonesia mungkin menjadi sorotan akhir-akhir ini. Siapa lagi kalau bukan sang ketua, Edy Rahmayadi, yang mengeluarkan pernyataan kontroversial menyangkut nasionalisme pemain Indonesia yang bermain di luar negeri. Sungguh konyol.

Lelah rasanya apabila harus menyebutkan kekonyolan PSSI lainnya yang terjadi di tahun 2017, namun ada baiknya kita move on, dan berharap hal serupa tak terjadi di tahun 2018. Bagaimanapun juga, warasnya PSSI adalah kunci dari kesuksesan sepak bola Indonesia, dan kita tentu harus membantu setidaknya dengan berdoa, agar mereka dapat segera melakukan evaluasi dan menjadi lebih baik lagi.

Author: Ganesha Arif Lesmana (@ganesharif)
Penggemar sepak bola dan basket





Source link

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Bolamezzo