Connect with us

Bolamezzo

Maradonapoli, Kisah Cinta Abadi dari Kaki Gunung Vesuvius

Maradonapoli, Kisah Cinta Abadi dari Kaki Gunung Vesuvius

Bicara soal keindahan, Naples, kota di pesisir selatan Italia, memang tak ada duanya. Hamparan pasir putih pesisir,deretan bangunan dengan arsitektur kuno, hingga kekayaan sejarah kejayaan bangsa Romawi di kaki gunung Vesuvius membuat hati dan mata yang memandangnya kian terbius.

Akan tetapi, di balik keindahan tersebut terselip anomali. Toh, sudah menjadi rahasia umum apabila masyarakat di bagian selatan Italia tertinggal dari sisi ekonomi dibandingkan bagian utara. Para penduduk Italia selatan terkenal sebagai pekerja kasar yang hidup dengan hasil bumi seperti pelaut atau peternak.

Pada 2016, The Economist 2016 mencatat, dari total 943.000 penggangguran di Italia pada periode 2007 hingga 2015, 70 persen di antaranya berasal dari selatan. Hal itu pun dianggap menjadi satu di antara alasan lebih dari 700.000 orang yang melakukan imigrasi dari selatan ke utara pada periode 2001 hingga 2013.

Kesenjangan ekonomi juga terasa dalam sendi kehidupan bermasyarakat di Naples. Bahkan, New York Times edisi 7 Oktober 2012 memberitakan, berbagai kasus korupsi hingga kemunculan endemik kelompok mafia dilatari dari rasa “iri” akan kesenjangan besar di wilayah tersebut dengan di utara Italia yang tertanam sejak puluhan tahun silam.

Pada akhirnya, pencurian, kemiskinan, dan tindak kriminal menjadi “makanan” biasa di Italia selatan, termasuk Kota Naples. Hal ini kemudian sempat memunculkan anggapan yang membuat masyarakat Naples tidak memiliki gairah besar apabila berbicara soal sepak bola, olahraga yang paling digemari di Italia.

Meminjam bahasa mantan pemain Napoli, Francesco Montervino, “Di Italia, sepak bola adalah olahraga yang paling digemari, kecuali di Naples. Hal tersebut terjadi karena tim kami tidak memiliki prestasi yang cukup bagus. Namun, saya bangga sempat mengenakan seragam Napoli.”

Kebanggaan Montervino itu merujuk pada 1 Juli 1984, tanggal yang akan selalu dikenang bagi tifosiNapoli. Kala itu, klub yang identik dengan seragam berwarna biru muda tersebut sukses mendatangkan salah satu pemain terbaik dunia, Diego Maradona, dari Barcelona yang notabene kesebelasan top di Spanyol.

Napoli memecahkan rekor pembelian termahal dunia ketika mendatangkan Maradona. Kedatangan andalan timnas Argentina itu membuat para pendukung Napoli merasa bahagia, mereka optimistis dapat memuaskan dahaga gelar.

“Sebelumnya klub-klub asal Italia Utara seperti Juventus, Inter Milan, dan AC Milan selalu mendominasi. Segalanya mulai berubah ketika Maradona bergabung ke Napoli,” kenang pentolan fans Napoli, Massimiliano Gallo.

Menurut Salvatore Iodice, seorang seniman asal Kota Naples yang juga pendukung Napoli, kedatangan Maradona membuat kota itu mendadak bising, “Saya ingat malam ketika Maradona bergabung, semua mobil di seluruh kota menyalakan musik, seperti mereka telah memenangi Scudetto.”

Nyatanya, hingga detik ini magis Maradona belum meninggalkan Kota Naples. Tanyakan saja kepada setiap Neapolitano (sebutan penduduk Kota Naples) tentang sepak bola, pasti hal pertama yang mereka sebut adalah Maradona.

Tidak mengherankan, sebagian warga kota itu memang menganggap Maradona bagai dewa. Terbukti, di Naples terdapat ‘Kuil’ Maradona yang dibangun oleh masyarakat setempat. Kesuksesan pria kelahiran 30 Oktober 1960 itu membuat wajahnya menghiasi jalan-jalan di kota tersebut. Hingga saat ini, seragam bertuliskan namanya masih dijual di toko-toko olahraga yang ada di kota itu.

“Terdapat sekitar tiga juta penduduk Kota Naples. Dari jumlah tersebut, dua juta di antaranya memiliki foto Maradona. Di sini, Maradona bagai Tuhan di antara manusia, seperti seorang Paus,” kata penduduk Kota Naples yang bernama Gennaro Montuori.

Bukan Prestasi Instan

Meski begitu, masyarakat Kota Naples harus bersabar selama dua musim sejak kedatangan Maradona untuk memenangi Scudetto pertama mereka. Pasalnya, petinggi klub membutuhkan waktu untuk membangun skuat yang dapat mengimbangi kemampuan Maradona.

Pada musim pertama Maradona, Napoli hanya menempati peringkat kedelapan klasemen akhir. Saat itu, Verona menjadi kejutan ketika berhasil membawa pulang trofi Scudetto pertama dan satu-satunya hingga saat ini.

Sementara itu, prestasi Napoli pada musim kedua bersama Maradona lebih baik. Mereka mengakhiri musim pada posisi ketiga, di bawah Juventus dan AS Roma.

Baru pada musim 1986-1987, Napoli berhasil memutus kesuksesan tim-tim dari Italia Utara. Saat itu, Maradona dibantu bek muda, Ciro Ferrara, serta rekrutan anyar Andrea Carnevale dan Fernando De Napoli untuk meraih trofi Serie A.

Pada hari yang cerah itu, tepatnya 10 Mei 1987, berlangsung pertandingan pekan ke-29 Serie A 1986-1987 di Stadion San Paolo antara Napoli kontra Fiorentina. Skor sama kuat 1-1 sejak menit ke-30. Di sisi lain, rival utama I Partenopei dalam memperebutkan Scudetto, Juventus tengah bermain dengan skor yang sama.

 

Ketika itu, Napoli tengah mengoleksi 40 poin, unggul lima angka dari Juventus. Apabila mereka bermain imbang dan Juventus menang, selisih akan terpangkas menjadi tiga poin dan perebutan gelar akan dilanjutkan hingga pekan terakhir Serie A.

Para pendukung Napoli yang hadir di Stadion San Paolo terus melirik jam besar di papan skor. Detik demi detik terasa bagai tahun bagi mereka, karena menantikan peluit berbunyi tanda pertandingan berakhir.

Wajar apabila para pendukung Gli Azzurri tidak sabar menunggu pertandingan berakhir. Mereka juga berharap Juventus tidak menambah gol hingga menit akhir pertandingan, seperti yang biasa mereka lakukan. Bukan tanpa alasan, I Bianconeri kerap mencetak gol pada menit akhir.

Akan tetapi, hari itu doa masyarakat Kota Naples terjawab, wasit meniup panjang peluit tanda pertandingan terakhir. Pada saat yang sama, Hellas Verona mampu menahan Juventus dengan skor 1-1.

Hari itu, seluruh pendukung Napoli langsung turun ke lapangan untuk merayakan Scudetto pertama sepanjang sejarah klub. Suar api dinyalakan di tribun-tribun Stadion San Paolo, seolah Gunung Vesuvius kembali mengeluarkan laharnya. Mereka langsung mencari pahlawan mereka, pemuda asal Argentina, Diego Armando Maradona.

“Hari ini merupakan yang terbaik untuk saya. Kesuksesan memenangi Scudetto ini menjad momen terhebat sepanjang hidup saya,” ujar Maradona kala itu, sesaat setelah mengantarkan Napoli menjadi Scudetto.

Penduduk Kota Naples berpesta semalaman suntuk, mereka menyanyi dan menari merayakan kesuksesan memenangi Scudetto. Kembang api diledakan, suar api dinyalakan. Malam itu, kaki Gunung Vesuvius terlihat tengah terbakar. Namun, Kota Naples terbakar histeria keberhasilan menumbangkan dominasi klub-klub sepak bola dari Italia Utara.

Kedekatan Sosial

Seperti kebanyakan penduduk Kota Naples, Maradona berasal dari daerah miskin di Kota Buenos Aires, Argentina. Kedua orang tuanya merupakan pendatang baru yang mengadu nasib di Ibu Kota Argentina tersebut.

Di Buenos Aires, terdapat dua kesebelasan besar, River Plate dan Boca Juniors. River Plate menjadi perlambang orang-orang kaya di kota tersebut, sementara Boca Juniors adalah wakil masyarakat miskin.

Tentu saja Maradona muda memilih bergabung dengan Boca Juniors dibandingkan River Plate. Alasan yang sama ketika dia lebih memilih Napoli daripada bergabung ke rival abadi Barcelona, Real Madrid.

Padahal, secara prestasi dan finansial, Real Madrid lebih mengilap dibandingkan Napoli. Los Blancos merupakan kesebelasan paling sukses di Spanyol dan Eropa.

Akan tetapi, Maradona lebih suka pindah ke Napoli yang punya kedekatan sosial dengannya. Pria yang terkenal dengan “gol tangan Tuhan”-nya itu menyiratkan tidak suka meraih juara bersama para pemain bintang.

 

“Di Real Madrid, mereka semua adalah pemain bintang. Mereka perlu tambahan yang bisa membawakan air untuk mereka,” ujar Maradona ketika ditanya alasan bergabung ke Napoli.

Pilihan-pilihan Maradona membuat orang-orang di Argentina dan Kota Naples menganggapnya lebih dari sekadar pesepak bola. Mereka merasa Maradona adalah pemimpin, bahkan dewa.

Bahkan, hal tersebut menjadi alasan penduduk Kota Naples mengkhianati tanah airnya sendiri, Italia. Pada pagelaran Piala Dunia 1990 di Italia, tim tuan rumah berhadapan dengan timnas Argentina pimpinan Maradona pada laga semifinal.

Alih-alih mendukung Gli Azzurri, publik San Paolo justru bersorak untuk Maradona. Hingga detik ini, kondisi tersebut membuat Kota Napoli menjadi musuh bersama seluruh Italia karena Albiceleste lolos ke final setelah menang adu tendangan penalti.

Kisah Cinta Abadi

Sejak berdiri pada 1 Agustus 1926, Napoli tercatat memenangi 10 trofi bergengsi, termasuk Scudetto, Coppa Italia, Supercoppa Italiana, dan Piala UEFA. Dari jumlah tersebut, setengahnya diraih bersama Maradona.

Selain itu, dari jumlah tersebut, hanya Coppa Italia dan Supercoppa Italiana yang mampu Napoli menangi tanpa Maradona. Sedangkan gelar Scudetto dan Piala UEFA diraih bersama mantan mertua Sergio Aguero tersebut.

Kesuksesan pria bernama lengkap Diego Armando Maradona itu bersama Napoli belum pernah terulang sejak dia pergi dari Kota Naples pada 25 Maret 1991. Sejak kepergian Maradona, Napoli belum pernah kembali merasakan gelar Scudetto atau kompetisi antarklub Eropa.

Kini, 27 tahun setelah Diego Maradona angkat kaki dari pesisir selatan Italia, Napoli kembali berpeluang memenangi Scudetto. Seakan mengulangi kenangan 31 tahun silam, kini Partenopei kembali bersaing dengan Juventus untuk memperebutkan lambang perisai kecil bergambar bendera Italia di dada pada musim selanjutnya.

 

Beberapa catatan membuat Napoli dijagokan merebut Scudetto yang selama enam musim selalu berlabuh ke Kota Turin. Satu di antaranya adalah kesuksesan Marek Hamsik memecahkan rekor Maradona sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Partenopei.

Selain itu, terdapat Lorenzo Insigne yang menjadi andalan di lini depan Napoli. Gaya main Insigne mengingatkan publik Kota Naples terhadap sosok Maradona. Selain itu, postur keduanya mirip karena Insigne memiliki tinggi 163 cm, sedangkan Maradona 165 cm.

Publik Italia pun berada di belakang Napoli dalam perebutan Scudetto musim 2017-2018. Bukan tanpa alasan, mereka merasa bosan dengan monopoli Juventus dalam enam musim terakhir.

 

Saat ini, Napoli berada di posisi kedua klasemen sementara Serie A dengan nilai 74 dari 30 pertandingan. Skuat asuhan Maurizio Sarri tertinggal empat poin dari Juventus di posisi kedua.

Patut dinanti apakah Marek Hamsik dan kawan-kawan mampu mengulangi histeria Maradonapoli yang membuat Gunung Vesuvius bergetar pada pertengahan dekade 1980-an? Atau trofi Serie A kembali berlabuh ke Kota Turin?

Sumber: Berbagai sumber

Source link

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Bolamezzo